Laptop Lama Jadi Lemot Setelah Update, Ini yang Kulakukan

Pada suatu Selasa malam di bulan Mei — tepat setelah rapat panjang yang membuat mata saya pedih — saya menutup laptop tua yang selalu setia menemani kerja jarak jauh. Besoknya, muncul notifikasi: ada update besar untuk Windows. Saya, seperti biasa, memilih “install and restart” sambil membayangkan secangkir kopi panas. Dua jam kemudian, laptop kembali menyala. Hanya saja: lemot. Aplikasi terbuka lama, kursor tersendat, dan saya yang biasanya tenang mulai bertanya dalam hati, “Apa yang terjadi?”

Awal masalah: dari produktif ke struggle

Laptop itu sudah menemani saya sejak 2017—prosesor Intel generasi ke-6, HDD 1TB, dan RAM 8GB. Bukan mesin angin, tapi cukup untuk tulisan, spreadsheet, dan beberapa tab Chrome. Setelah update, gejalanya klasik: CPU melonjak walau aplikasi sedikit, disk usage alami 100%, booting menjadi lambat. Saya merasakan frustasi. Pikir saya, ini cuma glitch sementara. Tapi berulang kali restart tidak memperbaiki. Di tengah kebingungan saya sempat bergumam, “Kalau sampai harus bongkar, itu berarti upgrade.”

Langkah-langkah yang saya coba (berurut dan praktis)

Pertama-tama, saya membuka Task Manager. Di sana jelas: proses svchost.exe dan Windows Update memakan resource. Langkah pertama yang saya lakukan adalah menghentikan service yang bersangkutan sementara — bukan solusi permanen, tetapi untuk mengurangi kepanikan. Lalu saya lakukan beberapa langkah yang saya pelajari lewat pengalaman bertahun-tahun menangani gadget client dan perangkat pribadi:

– Disable startup apps: banyak aplikasi auto-start yang tidak perlu. Saya matikan semua kecuali antivirus dan driver essentials. Hasilnya noticeable: boot 30% lebih cepat.

– Disk Cleanup dan Storage Sense: membersihkan file temporary dan update cache. Windows sering menyimpan patch lama yang memakan puluhan gigabyte.

– Cek health HDD: pakai CrystalDiskInfo. HDC saya menunjukkan sedikit bad sector — petunjuk bahwa HDD mulai aus. Ini menjelaskan akses disk 100%.

– Update driver secara manual: terutama driver chipset dan storage controller. Driver generik kadang tidak optimal setelah update besar OS.

– Scan antivirus dan malware: kadang update membuka celah atau trigger software yang berjalan abnormal. Saya pakai tool on-demand untuk double-check.

Keputusan besar: upgrade hardware & clean install

Setelah langkah-langkah tadi masih terasa seperti plester di luka, saya menghadapi pilihan: patch terus atau berinvestasi. Saya memilih kombinasi. Pertama: cloning sistem lama ke SSD 500GB. Cloning berjalan mulus; saya memakai malam akhir pekan untuk proses ini. Saat SSD dipasang, rasanya seperti memberikan napas baru ke laptop. Boot turun dari hampir 2 menit menjadi 18 detik. Aplikasi membuka seketika. Perbandingan sebelum-sesudah dramatis.

Kedua: menambah RAM dari 8GB ke 16GB. Multitasking yang dulu membuat fan meraung kini jadi normal. Terakhir, saya melakukan clean install Windows. Kenapa? Karena sisa-sisa update lama dan konfigurasi yang berantakan sering bikin masalah yang susah dibaca. Clean install terasa seperti merapikan rumah secara total—melelahkan, tapi hasilnya memuaskan.

Refleksi akhir: bukan cuma teknologi, tapi kebiasaan

Saya belajar beberapa hal penting dari pengalaman ini. Pertama, update itu perlu, tapi jangan panik. Luangkan waktu setelah update besar untuk observasi. Kedua, backup itu bukan omong kosong—saya nyaris kehilangan beberapa file kerja karena tidak rutin backup sebelum update. Ketiga, hardware punya umur; SSD dan RAM adalah upgrade paling cost-effective untuk napas baru laptop tua. Keempat, jangan ragu minta bantuan profesional bila perlu—tahu kapan trade-off antara biaya dan waktu adalah keputusan cerdas.

Saya juga ternyata membeli sebuah skin pelindung layar dan case dari sebuah situs untuk menjaga estetika dan agar tetap nyaman bekerja ketika bawa laptop ke kafe. Kalau kamu perlu, cek juga wavearmorva untuk aksesoris yang pernah saya cari waktu itu. Kebiasaan kecil seperti itu membuat saya lebih menjaga perangkat setelah upgrade.

Akhirnya, dari rasa panik jadi puas. Laptop yang semula lemot setelah update kini balik lagi jadi andalan. Bukan karena mukjizat, tapi kombinasi diagnosis, langkah sistematis, dan willingness untuk upgrade. Jika kamu mengalami hal serupa: mulai dari Task Manager, bersihkan sistem, cek HDD, pertimbangkan SSD+RAM, dan bila perlu clean install. Simpel, terstruktur, dan hasilnya nyata.